Jurnalis Hijau Independen: Jeritan Alam yang Terus Diabaikan


Indragiri Hilir - Kehadiran Jurnalis Hijau Independen (JHI) bukan sekadar menambah barisan organisasi pers, melainkan menjadi representasi dari jeritan alam yang selama ini tak pernah benar-benar didengar. Alam terus berbicara,melalui banjir, longsor, kekeringan, krisis pangan, dan perubahan iklim,namun manusia kerap memilih untuk tuli.

Kita sadar, alam adalah sumber kehidupan. Dari tanah yang subur, air yang mengalir, hingga udara yang kita hirup, semuanya menopang keberlangsungan manusia. Namun pada saat yang sama, kita juga tahu bahwa alam yang dirusak dapat berubah menjadi sumber kehancuran. Ironisnya, kesadaran itu sering berhenti pada wacana, bukan tindakan.



Eksploitasi sumber daya dilakukan atas nama pembangunan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi, sementara dampak ekologisnya dipinggirkan. Hutan ditebang, sungai tercemar, laut dieksploitasi, dan ruang hidup masyarakat adat tergerus—semua berlangsung dengan legitimasi kebijakan dan pembiaran publik. Di sinilah persoalan utamanya, bukan hanya alam yang rusak, tetapi nurani manusia yang perlahan tumpul.

JHI hadir untuk mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan isu pinggiran. Ini adalah persoalan hidup dan mati, hari ini dan masa depan. Jurnalisme hijau bukan sekadar melaporkan bencana, tetapi membongkar akar masalah, menyingkap kepentingan di balik kerusakan, dan memberi suara bagi alam serta manusia yang terdampak.

Sangat disayangkan, masih banyak pihak yang menganggap isu lingkungan sebagai penghambat pembangunan, bukan fondasinya. Padahal tanpa lingkungan yang lestari, pembangunan hanyalah ilusi jangka pendek yang meninggalkan warisan kehancuran.

Sudah saatnya publik membuka mata. Alam tidak membutuhkan manusia, manusialah yang membutuhkan alam. Jika jeritan ini terus diabaikan, maka bencana bukan lagi peringatan—melainkan konsekuensi yang tak terelakkan.


Opini

Indra TT

0 Komentar