Di Bawah Deru Ekskavator, Kari Merbau Kian Terkikis, Diduga Inisial ISP Pemodalnya

Ket Fhoto : Ilustrasi



Kari - Deru mesin ekskavator memecah ketenangan Merbau Kari, Kenegerian Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Selasa (28/04/2026). Di jalur menuju lapangan futsal, bukan lagi suara tawa atau riuh permainan yang dominan terdengar, melainkan bunyi logam menggerus tanah—pelan tapi pasti mengubah bentang alam.

Di sana, sebuah alat berat berdiri gagah, mengoyak lapisan bumi tanpa tedeng aling-aling. Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) itu berlangsung terang-terangan, seolah tak lagi mengenal sembunyi.

Tak ada lagi kesan operasi kucing-kucingan. Tidak tampak upaya menutup jejak. Yang terlihat justru sebaliknya—aktivitas terbuka dengan ritme kerja yang intens. Tanah dikeruk, dipindahkan, lalu disaring, dalam siklus yang berulang sepanjang hari.

Warga sekitar hanya bisa memandang dengan cemas. Mereka paham, yang berlangsung bukan sekadar tambang rakyat tradisional. Kehadiran ekskavator menjadi penanda: ini pekerjaan bermodal besar.

“Kalau sudah pakai alat berat begitu, jelas bukan lagi kerja biasa,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Di balik aktivitas itu, beredar kabar tentang keterlibatan seorang oknum berinisial ISP. Nama itu disebut-sebut sebagai pemodal sekaligus aktor di balik operasi tambang ilegal tersebut. Namun, kabar itu masih sebatas bisik-bisik yang belum tersentuh konfirmasi resmi.

Meski begitu, bagi warga, siapa pun pelakunya, dampaknya sudah nyata di depan mata.

Lahan yang dulu hijau perlahan berubah menjadi kubangan. Struktur tanah terganggu. Ancaman kerusakan lingkungan mengintai, dari erosi hingga potensi pencemaran air.

Kenegerian Kari, yang dahulu dikenal dengan lanskap alamnya, kini menghadapi babak baru—menjadi salah satu titik aktivitas PETI yang kian marak di Kuantan Tengah.

Ironisnya, semua ini berlangsung tanpa tanda-tanda penindakan. Di tengah terbukanya aktivitas dan besarnya skala operasi, hukum seolah hadir dalam jarak yang jauh.

Pertanyaan pun menggantung di udara, setajam suara mesin yang terus bekerja: sampai kapan tanah ini akan dikeruk tanpa henti, dan siapa yang akan menghentikannya?

Sementara itu, di Merbau Kari, ekskavator tetap bergerak. Tanah terus terangkat. Dan waktu, perlahan, ikut mengikis harapan akan terselamatkannya lingkungan yang tersisa.(*) 

0 Komentar