Tragis, Satu Orang Tewas Usai Beradu Kambing di Desa Jake Kuansing
9/22/2025 04:51:00 AM
BUKITTINGGI – Gema semangat Raden Ajeng Kartini kembali bergetar di Aula Rumah Dinas Walikota Bukittinggi pada Selasa (21/4/2026). Di tengah keanggunan kebaya yang menyemarakkan peringatan Hari Kartini ke-147, sebuah refleksi mendalam tentang transformasi mental dan intelektual perempuan modern menyeruak ke permukaan.
Adalah Emalia Yuli Israwanti, S.Psi., Psikolog, tokoh kesehatan mental yang kini menjadi wajah inspiratif di Bukittinggi, memberikan narasi yang menggetarkan. Bagi Emalia, peringatan ini bukan sekadar seremoni busana adat, melainkan momentum untuk membongkar "dinding-dinding" batin yang menghambat potensi perempuan.
Mata Air Inspirasi dari Ranah Minang
Dalam orasinya, Emalia membagikan perjalanan spiritual dan profesionalnya yang telah menyatu erat dengan bumi Sumatera Barat. "Lebih dari separuh umur saya sudah berada di ranah Minang. Kartini memang dari Jawa, tapi Kartini-Kartini Minangkabau telah memaknai kehidupan saya selama lebih dari 20 tahun—separuh dari usia saya saat ini," ungkapnya dengan penuh haru.
Ia menegaskan bahwa nama Raden Ajeng Kartini tidak boleh dikenang sekadar sebagai pelopor emansipasi perempuan belaka. "Beliau adalah sebuah simbol perjuangan ilmu dan pembelajaran. Semangat untuk belajar yang tidak boleh dihentikan oleh terali dan dinding-dinding beton, meski di tengah keterbatasan adab dan budaya di masanya."
Estafet Perjuangan Tokoh Tangguh
Emalia menyoroti bahwa Kartini muda memiliki kegelisahan mendalam tentang mengapa perempuan tidak diberi ruang yang sama untuk berpikir, membaca, dan menuntut ilmu. Kegelisahan itulah yang kemudian menjadi mata air inspirasi bagi perempuan Indonesia, termasuk di Ranah Minang.
"Semangat itu tumbuh dalam sosok-sosok perempuan tangguh seperti Rohana Kudus, Rasuna Said, Siti Manggopoh, hingga Zakiah Daradjat. Semangat yang sama itulah yang hadir dalam sosok Kartini-Kartini hebat yang ada di ruangan ini hari ini," tambahnya, disambut apresiasi hangat dari para hadirin.
Ego Dinding Beton Masa Kini
Bagi Emalia, jika dahulu tantangannya adalah keterbatasan akses, maka tantangan perempuan tahun 2026 telah bergeser ke ranah psikologis. Ia menekankan bahwa musuh terbesar saat ini seringkali datang dari dalam diri sendiri.
"Dinding beton terbesar seorang perempuan adalah ketika ia mengutamakan egonya. Perasaan merasa sudah memahami semua hal menjadi penghalang utama baginya untuk bisa maju dan lebih berdaya," tegas praktisi yang berkantor di Jl. Perwira No. 184, Belakang Balok ini. Menurutnya, kerendahan hati untuk tetap belajar adalah kunci emansipasi yang sesungguhnya.
Pesan bagi Perempuan yang "Lelah"
Menutup narasinya, Emalia memberikan pesan penyejuk bagi mereka yang sedang merasa kehilangan arah di tengah tuntutan karier dan keluarga. "Jika lelah, beristirahatlah sejenak, tak apa. Lalu, setelah dirasa cukup, bangkitlah kembali untuk menjemput petunjuk dari Sang Maha Pemberi Petunjuk. Sesuai janji Allah, tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar."
Kiprah Emalia Yuli Israwanti membuktikan bahwa Kartini masa kini adalah mereka yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kesantunan budaya, serta tetap teguh berpijak pada nilai-nilai ketuhanan dalam membangun ketahanan keluarga di Kota Bukittinggi.
Tentang Emalia Yuli Israwanti, S.Psi., Psikolog
Seorang psikolog profesional di Bukittinggi yang aktif dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Beliau merupakan mitra strategis Pemerintah Kota melalui Dinas P3APPKB dalam mewujudkan visi Bukittinggi Kota Layak Anak dan Pengarusutamaan Gender (PUG).
0 Komentar