Dana Desa Menyusut, Kepemimpinan Desa Diuji Hanya Kades Visioner Yang Mampu Bertahan



Menyusutnya dana desa bukan sekadar persoalan angka dalam laporan anggaran. Ia adalah ujian nyata bagi kualitas kepemimpinan di tingkat paling dekat dengan rakyat. Ketika sumber daya melimpah, hampir siapa pun bisa terlihat berhasil. 

Namun saat dana menipis, hanya pemimpin dengan visi jauh ke depan yang mampu tetap membawa desa bergerak maju Situasi ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan administratif. 

Desa membutuhkan pemimpin yang memiliki wawasan luas tentang masa depan, mampu melihat gambaran besar, dan berani merancang strategi jangka panjang. Bukan pemimpin yang reaktif, apalagi sekadar mengeluh pada keterbatasan, tetapi sosok visioner yang mampu membaca perubahan zaman dan mengantisipasi dampaknya bagi masyarakat desa.

Pemikir strategis sejati tidak terjebak pada persoalan hari ini semata. Ia bertanya: ke mana desa ini akan melangkah lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan? Bagaimana potensi lokal bisa dioptimalkan ketika bantuan pusat berkurang? Inovasi menjadi kata kunci ide-ide segar yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, tetapi relevan dan berkelanjutan.

Menyusutnya dana desa seharusnya menjadi pemicu kreativitas, bukan alasan stagnasi. Desa dengan kepemimpinan visioner akan mulai menggeser orientasi dari ketergantungan anggaran menuju kemandirian ekonomi, penguatan sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. 

Di sinilah peran pemimpin sebagai inspirator diuji, mampukah ia menggerakkan perangkat desa dan masyarakat untuk percaya pada visi bersama, meski situasi tidak ideal?

Pada akhirnya, krisis anggaran adalah cermin. Ia memperlihatkan mana pemimpin yang hanya piawai menghabiskan dana, dan mana yang benar-benar mampu membangun arah.

Menyusutnya dana desa bukan akhir dari pembangunan desa justru bisa menjadi awal lahirnya kepemimpinan desa yang lebih matang, inovatif, dan berorientasi masa depan.


Opini

Indra TT

0 Komentar