Gedung Megah Bung Hatta Tercoreng: Rongsokan Kendaraan dan Sampah Menggunung di Halaman Perpustakaan



​BUKITTINGGI – Megahnya Gedung Perpustakaan Proklamator Bung Hatta di kawasan Gulai Bancah, Bukittinggi, seolah tercederai oleh pemandangan memprihatinkan di halaman belakangnya. Tumpukan kerangka kendaraan dinas yang hancur berserakan dan tumpukan sampah yang meluap menjadi pemandangan sehari-hari yang merusak estetika dan mengancam kesehatan lingkungan.


​Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Leksi Hedrifa, S.Kom., MM., saat dikonfirmasi pada Rabu (28/1/2026), tidak menampik kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa tumpukan aset bekas dan bak sampah itu sudah ada sejak dirinya pertama kali menjabat di perpustakaan tersebut pada tahun 2023 silam. Namun, hingga saat ini, belum ada solusi konkret dari pihak-pihak berwenang di lingkungan Pemko Bukittinggi.


​"Setelah kami perhatikan dengan saksama, kondisi ini berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan. Kami sudah berulang kali mengupayakan langkah mencari solusi dengan menyurati instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Kabag Umum Pemko Bukittinggi. Namun hingga saat ini, belum ada eksekusi ataupun respons memadai," ujar Leksi penuh harap.


​Simpang Siur Proses Lelang Aset

Persoalan kerangka kendaraan yang kini menjadi besi tua juga menyisakan tanda tanya. Menurut Leksi, ia hanya mendapat informasi bahwa aset tersebut masuk tahap pelelangan. Namun, ia sendiri tidak pernah melihat kapan proses lelang itu dilaksanakan secara resmi.


​"Saya baru tahu setelah rangka-rangka kendaraan itu terpisah-pisah. Saya sangat khawatir jika nantinya kerangka ini hilang, siapa yang akan bertanggung jawab? Padahal posisinya berada di halaman kami," tegasnya. Selain kerangka kendaraan kecil, terdapat pula tiga unit kerangka bus bekas operasional yang diduga milik Pemko. Kondisi bus yang terbuka dan terbengkalai dikhawatirkan disalahgunakan oleh orang-orang iseng saat aktivitas kantor sedang sepi.


​Masalah Sampah Rumah Tangga

Tak hanya soal rongsokan besi, pengelolaan sampah pun menjadi keluhan utama. Meski pihak Perpustakaan tertib membayar retribusi setiap bulan dan menata bak sampah internal dengan rapi, bak sampah besar yang disediakan Dinas DLH di lokasi tersebut justru sering meluap.


​"Sampah yang menumpuk itu justru banyak berasal dari sampah rumah tangga warga luar. Kami sudah berulang kali meminta penjemputan segera, namun seringkali harus menunggu berhari-hari baru diangkut," tambah Leksi.


​Leksi berharap ada tindakan nyata dari instansi terkait agar lingkungan gedung megah ini tidak terus-menerus kumuh. "Kami tidak ingin hal ini menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Resiko terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, baik dari sisi keamanan aset maupun kesehatan, sedapat mungkin harus kita hindari," pungkasnya.


​Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya meminta konfirmasi lebih lanjut dari pihak DLH dan Kabag Umum Setdako Bukittinggi terkait kendala eksekusi yang dikeluhkan pihak perpustakaan tersebut.

0 Komentar