Menu MBG Ramadan Ayam dan Tempe di Goreng Sendiri Paket Diduga Tak Layak, Keuntungan Ditaksir Ratusan Juta per Bulan


Tembilahan – Program Makan Bergizi (MBG) di bulan suci Ramadan di sejumlah yayasan wilayah Tembilahan menuai sorotan tajam. Seperti paket makanan yang dibagikan kepada siswa SDN 004 tembilahan kota diduga jauh dari standar kelayakan gizi, bahkan disebut-sebut hanya bernilai diduga sekitar Rp8.000 per porsi, jauh di bawah anggaran yang dialokasikan.

Seorang siswa SDN 004 Tembilahan Kota mengaku kepada orang tuanya bahwa menu MBG yang diterimanya pada Senin (23 Januari 2026) hanya berisi satu buah jeruk, satu ubi rebus, tiga butir kurma, ayam rebus tanpa olahan, serta dua iris tipis tempe ungkep yang belum digoreng tanpa nasi putih.



Jika ditotal, nilai makanan tersebut diduga diperkirakan hanya sekitar Rp8.000 per paket. Padahal, anggaran MBG per paket disebut diduga mencapai Rp10.500 per siswa. Artinya, terdapat selisih sekitar Rp2.500 per paket yang patut dipertanyakan ke mana arahnya.

Rian, yang mengaku sebagai asisten lapangan (aslap) MBG SPPG Polres Kabupaten Indragiri Hilir Riau, saat dikonfirmasi membenarkan menu tersebut.

“Itu memang seperti itu menu Ramadan hari ini,” ujar Rian.

Persoalan ini bukan sekadar soal selisih Rp2.500. Jika diasumsikan terdapat 3.000 siswa penerima manfaat, maka potensi keuntungan dari selisih tersebut bisa mencapai Rp7,5 juta per hari. Dalam sebulan (26 hari), nilainya bisa menembus Rp195 juta.

Publik tentu bertanya-tanya: apakah program yang seharusnya menjamin asupan gizi anak-anak justru dijadikan ladang keuntungan? Apalagi di bulan Ramadan, saat kebutuhan nutrisi tetap harus diperhatikan demi menunjang aktivitas dan kesehatan siswa.

Menu yang jauh dari konsep “empat sehat lima sempurna” ini menimbulkan dugaan bahwa kualitas dan transparansi pengelolaan anggaran MBG perlu diaudit secara menyeluruh. Jika benar terjadi pemangkasan kualitas demi meraup margin besar, maka ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut moralitas dan tanggung jawab terhadap masa depan generasi muda.

Masyarakat kini menanti klarifikasi resmi dari pihak terkait serta langkah tegas dari aparat pengawas agar program bantuan pangan tidak berubah menjadi proyek yang menguntungkan segelintir pihak, sementara anak-anak hanya menerima menu seadanya.


Indra TT

0 Komentar