Tragis, Satu Orang Tewas Usai Beradu Kambing di Desa Jake Kuansing
9/22/2025 04:51:00 AM
BUKITTINGGI — Pelataran Balai Kota Bukittinggi menjadi saksi bisu sebuah simfoni peradaban yang memikat. Pemerintah Kota Bukittinggi resmi membuka rangkaian perhelatan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 pada Rabu malam (3/6). Istimewanya, jamuan makan malam (Welcome Dinner) ini sekaligus menandai dibukanya peringatan satu abad—100 tahun—berdirinya Jam Gadang, sang ikon sejarah tanah Minang.
Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti pertemuan para tokoh, akademisi, dan delegasi lintas negara yang hadir malam itu.
Ketua IMLF, Sastri Bakry, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Kota Bukittinggi serta seluruh elemen yang melatarbelakangi kesuksesan agenda global ini. Ia menekankan bahwa IMLF bukan sekadar perayaan kosmetik, melainkan buah dari sebuah orkestrasi kolaboratif yang solid.
"Kesuksesan pelaksanaan IMLF merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, pegiat literasi, media, relawan, hingga delegasi dari berbagai negara," ujar Sastri, menggarisbawahi kuatnya jejaring kolektif di balik layar.
Episentrum Sejarah dan Diplomasi Global
Sebagai tuan rumah, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, membawa ingatan para tamu undangan menyusuri lorong waktu. Ia menegaskan kembali posisi geopolitik dan kultural Bukittinggi yang begitu sentral sejak diresmikan pada 22 Desember 1784. Kota ini, menurutnya, telah lama mengakar sebagai pusat perdagangan, pendidikan, garis depan perjuangan, hingga episentrum peradaban Minangkabau.
Lebih jauh, Ramlan mengonseptualisasikan bahwa peringatan 100 Tahun Jam Gadang memiliki signifikansi yang jauh lebih besar daripada sekadar merayakan usia sebuah arsitektur.
"Peringatan 100 Tahun Jam Gadang bukan sekadar memperingati usia sebuah bangunan, tetapi menjadi momentum memperkuat diplomasi budaya, pelestarian sejarah, serta memperkenalkan Bukittinggi sebagai kota sejarah dan destinasi wisata dunia," papar Wali Kota.
Merawat Fondasi Pikiran di Era Digital
Sinergi pemikiran tersebut diamini oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi. Dalam orasi budayanya, Mahyeldi menyoroti dimensi spiritual dan intelektual masyarakat Minangkabau yang secara historis memiliki keintiman amat kuat dengan dunia literasi. Filosofi kultural “Alam takambang jadi guru” dinilai sebagai jangkar kontekstual yang berhasil melahirkan tokoh-tokoh besar di panggung nasional, baik di bidang pendidikan, sastra, maupun kebangsaan.
Di tengah disrupsi teknologi digital dan penetrasi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, Mahyeldi memandang literasi sebagai benteng pertahanan sekaligus motor penggerak peradaban.
"IMLF menjadi wadah membangun jejaring global, memperkuat persahabatan antarbangsa, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau kepada dunia," pungkas Mahyeldi di akhir pidatonya.
Melalui harmoni antara perayaan satu abad Jam Gadang dan gaung IMLF ke-4, Bukittinggi malam itu tidak hanya sekadar menjamu para tamunya, tetapi sedang mengirimkan pesan kebudayaan yang kuat ke panggung dunia: bahwa di kota ini, sejarah dirawat, dan masa depan literasi global sedang dirajut.
0 Komentar