Dukung Pilot Project Pengolahan Sampah Pemuda, Linda Wardiyanti Siap Kawal Suara Warga Gulai Bancah

 



​BUKITTINGGI – Anggota DPRD Kota Bukittinggi dari fraksi PKS, Apt. Linda Wardiyanti, S.Farm, menggelar Reses Perorangan Masa Sidang III Tahun 2025/2026 di RT 07/RW 02, Kelurahan Kubu Gulai Bancah, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS), Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara wakil rakyat dengan masyarakat untuk menyerap berbagai aspirasi yang berkembang di tengah warga.




​Reses tersebut dihadiri oleh Sekretaris Camat MKS, unsur Bundo Kanduang, Ninik Mamak, perwakilan SKPD, tokoh masyarakat, serta warga Kelurahan Kubu Gulai Bancah yang antusias menyampaikan berbagai persoalan dan kebutuhan di lingkungan mereka.

​Dalam sesi dialog pertama, masyarakat mengajukan beragam usulan yang menyentuh aspek sosial, budaya, hingga infrastruktur.

​Gustini dari Luak Anyia mengusulkan bantuan seperangkat alat rebana sebagai sarana pengembangan seni dan kegiatan keagamaan masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Linda Wardiyanti mengatakan usulan tersebut akan diupayakan masuk dalam Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD pada tahun anggaran mendatang.

​"Insya Allah usulan ini akan kita masukkan dalam Pokir tahun depan. Realisasinya memang mengikuti mekanisme anggaran, namun mudah-mudahan ada solusi lain yang bisa diupayakan lebih cepat," ujarnya.

​Sementara itu, Ernawati mengusulkan pembangunan sumur bor untuk wilayah Kubu Ateh yang selama ini membutuhkan tambahan sumber air bersih. Linda menyatakan usulan tersebut menjadi salah satu prioritas yang akan diperjuangkan melalui dana Pokir.

​Aspirasi lainnya datang dari Bundo Kanduang Kelurahan Kubu Gulai Bancah yang mengusulkan pemasangan baliho berisi filosofi adat "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK)". Menurut mereka, keberadaan dua perguruan tinggi di wilayah tersebut menyebabkan banyak mahasiswa pendatang yang tinggal di rumah kos, sehingga diperlukan pengingat mengenai etika, norma, dan budaya Minangkabau.

​Menanggapi hal itu, Linda menyatakan dukungannya.

"Pemasangan baliho tentang etika, adab berpakaian dan nilai-nilai ABS-SBK merupakan tanggung jawab kita bersama. Bundo Kanduang, Ninik Mamak, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menjaga marwah budaya Minangkabau," katanya.

​Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan persoalan drainase yang dinilai perlu segera mendapat perhatian. Linda memastikan akan menyampaikan persoalan tersebut kepada Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) serta mengawal perkembangan penanganannya.

​Memasuki sesi dialog kedua, Tira, warga RT 07, mempertanyakan perubahan data desil yang berdampak terhadap penerimaan bantuan sosial masyarakat. Ia berharap Dinas Sosial memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terjadi kebingungan.

Menjawab hal tersebut, Linda menjelaskan bahwa penetapan desil merupakan kewenangan pemerintah pusat.

​"Namun demikian, kami akan mendorong Dinas Sosial untuk terus melakukan pemutakhiran data agar benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat. Data desil merupakan gabungan dari berbagai sumber data," jelasnya.

​Selanjutnya, Eti dari MDTA Tahsin Nurul Wathan mengajukan permohonan bantuan sound system serta seragam bagi sekitar 20 orang peserta didik. Seluruh usulan tersebut, menurut Linda, telah dicatat untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.

​Masukan yang cukup kritis disampaikan oleh Inyiak Mantari Sutan. Ia mempertanyakan efektivitas kunjungan kerja anggota dewan ke luar daerah, khususnya terkait inovasi pengolahan sampah yang dinilai belum terlihat implementasinya di Bukittinggi. Ia juga menyoroti pentingnya pemberdayaan generasi muda melalui penciptaan lapangan kerja agar terhindar dari penyalahgunaan narkoba, serta persoalan sulitnya anak-anak memperoleh akses masuk sekolah.

​Menanggapi hal tersebut, Linda menyatakan sangat mendukung apabila Kelurahan Kubu Gulai Bancah dijadikan sebagai pilot project pengolahan sampah berbasis masyarakat dengan melibatkan pemuda setempat.

​"Saya sangat mendukung apabila Kubu Gulai Banca

0 Komentar