Tragis, Satu Orang Tewas Usai Beradu Kambing di Desa Jake Kuansing
9/22/2025 04:51:00 AM
BUKITTINGGI — Di balik riuh tepuk tangan penonton saat Sanggar Tari Gempika Saiyo unjuk gigi dalam festival Alek Anak Nagari Pintu Kabun Baralek Gadang,Senin 24/8/2026. tersimpan bara kecemasan yang sekian lama memendam. Selama 12 tahun berdiri di atas napas ngos-ngosan, sanggar ini ibarat bom waktu yang siap meledak menandakan betapa kritisnya pertahanan budaya lokal jika terus dibiarkan berjuang sendirian.
Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk sekadar bertahan hidup. Yang saat ini di pimpin Ketua Pemuda Putra Ferizal bersama Pembina Sanggar Fadil, anak-anak muda ini terbiasa memanggul beban kelestarian tradisi dengan segala keterbatasan. Tanpa peralatan mewah, mereka merawat gerak dan irama hanya bermodalkan alat musik tradisional seadanya dan baju tari yang serba dipaksakan.
Sering tampil dalam undangan baralek khatam Al-Quran,acara lainnya Adik-adik tampil apa adanya. Untuk bisa naik panggung saja, kami sering bertumpu pada swadaya masyarakat," ungkap Feri dengan nada getir namun tegas.
Sanggar tari gempika Saiyo yang saat ini sudah berjumlah lebih kurang 27 anggota juga sering tampil dalam undangan acara Khatam Alquran dan juga perhelatan batagak Datuak.dan melalui akun media sosial kami sebarkan budaya ujar feri.
Sentilan Feri menceritakan realita pahit benteng kebudayaan nagari selama ini berdiri bukan karena sokongan sistematis yang mapan, melainkan karena lelah dan pengorbanan warga sekitar. Setiap kali sanggar ini mangkat tampil, ada beban sejarah dan budaya yang dipertaruhkan agar tidak punah ditelan zaman.
"Selagi bisa diupayakan, kami akan upayakan. Ini sejarah dan budaya yang harus kita jaga bersama," lanjut Feri, menegaskan bahwa kepunahan tradisi adalah ancaman nyata yang senantiasa mengintai jika pemuda berhenti bergerak.
Ledakan harapan baru akhirnya pecah. Masuknya bantuan Pokok Pikiran (Pokir) dari Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Asril, SE, menjadi pemantik oksigen segar di tengah ruang gerak sanggar yang selama ini menyempit. Suntikan dukungan ini seolah menjinakkan waktu kritis yang hampir menghabiskan napas kesenian di Pintu Kabun.
"Alhamdulillah, berkat bantuan Pokir Bapak Asril, SE, sanggar kita sekarang punya amunisi dan semangat baru. Ini momentum agar masyarakat bisa melihat, menilai, dan menyadari seberapa penting budaya ini harus kita jaga bersama," tutup Feri mengakhiri keterangannya.
Panggung Alek Anak Nagari Pintu Kabun kini bukan sekadar perayaan pesta adat, melainkan sinyal bahaya yang berhasil diubah menjadi dentum kebangkitan. Gempika Saiyo membuktikan: budaya tidak boleh mati suri di tanah kelahirannya sendiri.
0 Komentar