Rakyat Antre, Jerigen Diduga Dilayani: Ada Apa di SPBU Sungai Jering?


KUANTAN SINGINGI – Antrean panjang kendaraan kembali terjadi di SPBU Sungai Jering, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, dalam beberapa hari terakhir. Pemandangan melelahkan terlihat sejak pagi hingga siang hari, ketika ratusan kendaraan roda dua maupun roda empat harus mengular hingga ke bahu jalan demi mendapatkan bahan bakar. Sabtu (14/3/2026).

Namun di tengah panas terik dan penantian berjam-jam para pengendara, sebuah pemandangan kontras justru memicu kemarahan warga. Di saat masyarakat harus sabar menunggu giliran, sejumlah jerigen terlihat disusun rapi dan diisi BBM secara bergantian.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat: apakah jerigen kini mendapat prioritas dibandingkan kendaraan yang mengantre di jalur resmi?



Sejumlah pengendara yang ditemui di lokasi mengaku kecewa dengan pengaturan pelayanan di SPBU tersebut. Mereka menilai pengisian jerigen di tengah antrean panjang kendaraan merupakan bentuk ketidakadilan bagi masyarakat umum.

“Kami sudah antre dari pagi. Mobil sampai panas karena terus maju sedikit demi sedikit. Tapi di sudut lain jerigen terus diisi. Ini rasanya tidak adil,” ujar seorang sopir truk yang meminta namanya tidak disebutkan.

Keluhan serupa juga disampaikan pengendara lain yang menilai praktik tersebut seolah memberikan jalur khusus bagi pihak tertentu.

“Kalau memang untuk kebutuhan tertentu, harusnya jelas dan diatur waktunya. Jangan ketika masyarakat sedang antre panjang seperti ini,” kata seorang pengendara roda dua.

Di tengah masyarakat, muncul dugaan bahwa praktik pengisian jerigen tersebut tidak sekadar kelalaian, melainkan berkaitan dengan aktivitas pelansir yang mengambil BBM untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPBU Sungai Jering belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pengisian jerigen tetap dilakukan saat antrean kendaraan sedang memuncak.

Padahal, berdasarkan aturan distribusi BBM bersubsidi, pengisian ke dalam jerigen tidak bisa dilakukan secara bebas. Pengguna harus memiliki surat rekomendasi resmi dari instansi terkait, biasanya untuk kebutuhan sektor pertanian, nelayan, atau usaha mikro tertentu.

Jika praktik pengisian jerigen dilakukan tanpa pengawasan ketat, terlebih saat masyarakat umum sedang mengalami antrean panjang, kondisi tersebut dinilai berpotensi melanggar prosedur pelayanan serta mencederai rasa keadilan publik.

Masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum serta pemerintah daerah untuk turun tangan melakukan pengawasan langsung di lapangan.

Polres Kuantan Singingi diminta melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna memastikan tidak ada praktik penyaluran BBM bersubsidi yang menyimpang, termasuk dugaan kerja sama antara pelansir dengan oknum petugas SPBU.

Selain itu, Dinas Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) juga diharapkan melakukan evaluasi terhadap operasional SPBU jika terbukti terjadi pelanggaran dalam distribusi BBM.

Di sisi lain, Pertamina selaku pengawas distribusi BBM nasional diminta tidak tinggal diam. Sanksi administratif hingga penghentian sementara pasokan BBM bisa diberikan apabila ditemukan pelanggaran serius dalam penyaluran.

Bagi masyarakat Teluk Kuantan, BBM bukan sekadar komoditas energi, melainkan kebutuhan vital untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Jika distribusinya justru memberi ruang lebih besar bagi kepentingan segelintir oknum, maka kepercayaan publik terhadap sistem distribusi BBM akan semakin tergerus.

Warga pun kini menanti langkah nyata dari pihak berwenang, bukan sekadar janji pengawasan yang berhenti di atas kertas.*(team)

2 Komentar

  1. Mgkn yg diisi didalam jerigen, BBM Non Subsidi seperti pertamax

    BalasHapus
  2. Yang di isikan Pertamax 92 bukan pertalite. Membuat berita tengok dulu kondisi lapangan. Seharus berita itu harus berimbang

    BalasHapus